kini ia tau bagaimana rasanya sakit hati di saat bunga cinta sedang mekar, ada kepiluan yang datang tiba-tiba dan memohonnya untuk memberikan bunga yang sedang mekar untuk kawannya. Ikhlaskah kau memberikan itu semua? hanya manusia super yang ikhlas memberikan kebahagian yang ia miliki untuk orang lain,Ya Habibah. Ia perempuan cantik,pintar dan berkerudung menambah kecantikan yang ia miliki. Dia merelakan menghentikan perasaannya demi sahabatnya Latifah kawan baik Habibah yang juga mengininkan bunga hati yang sedang Habibah rasakan.
“apa yang dia lakukan?” tanya Latifah pada Kawan baiknya saat mereka ada di ruang kelas.
“aku tak tahu,coba saja kau tanya” jawab Habibah.
Habibah tau yang di maksud kawannya adalah Ahmad kawan sekelas mereka, Habibah memang mengagumi Ahmad sejak lama, tapi ia selalu menutupi perasaannya demi pertemanan mereka yang terjalin sejak kelas VII. Dan Ahmad adalah orang yang dimaksud Latifah bahwa ia juga mengaguminya.
“apa? Kau suruh aku bertanya padanya atas apa yang sedang dia lakukan, mustahil Habibah”, Latifah mengelak saran Habibah dengan wajah keheranan.
“Latifah, aku hanya memberi saran saja, kalau kau ingin tau apa yang sedang Ahmad lakukan, kenapa tak kau tanyakan saja langsung padanya, aku juga tak tahu apa yang sedang ia lakukan” , Habibah menjawab panjang lebar.
“ah kau inikan dekatnya, kalian kan berteman sejak kelas VII tentu kau tau apa kebiasaannya” Latifah memandangi Habibah.
“astagfirullah, sudahlah aku tak mau bicara tentang Ahmad” Habibah pergi meninggalkan kawannya di kelas.
“hey...Habibah Maafkan aku” Latifah mengejarnya keluar.
Hari ini Habibah memang bersikap lebih sensitif dari pada sebelumnya, mungkin karena keadaan hatinya yang sedang tak mendukung
“Habibah....sedang apa kau disini” Ahmad menghampirinya saat ia sedang duduk di taman sekolah.
“Tidak” Singkat Habibah
“boleh ku duduk disini? Ku lihat kau kesepian, kemana perginya kawanmu latifah yang selalu membututimu sepanjang hari?” Ahmad menaatap Habibah sambil melontarkan senyumnya yang manis.
“Jangan, aku tak kesepian aku hanya ingin sendiri, Latifah dia di dalam kelas” Habibah menolaknya.
“Loh loh..kenapa? tapi aku ingin sekali duduk di taman ini, teduh sekali rasanya, apalagi ada Habibah disini” rayuan Ahmad tak mempan untuk Habibah.
“Ahmad sudahlah jangan merayuku, baiklah aku yang akan pergi dari sini, sekarang silahkan kau duduk disini semaumu” Habibah bangun dari duduknya.
“Habibah...kau inikan teman baikku, tak biasanya kau bersikap seperti ini padaku, apa kau punya masalah hah?” Ahmad mencegahnya pergi.
“sudahlah”, tanpa penjelasan lagi Habibah meninggalkan Ahmad sendiri di taman.
Habibah terkejut saat tahu bahwa Latifah sedari tadi menyaksikan kejadian tadi di taman, Habibah sangat kawatir dengan hati kawannya itu, ia takut kalau Latifah berfikiran yang tidak-tidak tentang kejadian Ahmad dan dia di taman tadi.
“ya Allah, bagaimana ini?” Habibah tampak gelisah.
Di ruang kelas.
“apa yang telah kalian bicarakan?” tanya Latifah tiba-tiba saat pak guru sedang menerangkan
“ah..tidak ada yang ku bicarakan” jawab Habibah tenang.
“bohong, kulihat Ahmad menghampirimu dan terlihat seperti merayumu, benarkan Habibah?” Latifah bertanya sambil menatap sini mata kawannya itu.
“lalu apa salah Ahmad menghampiriku dan mengajakku berbincang? Bukankah kau sendiri pernah bilang bahwa Ahmad temanku sejak aku kelas VII hingga sekarang, lalu apa kejadian tadi tak wajar menurutmu Latifah?” Habibah terlihat naik pitam karena perkataan kawannya tadi.
“Ya Allah Habibah, aku hanya ingin kau berkata jujur dan mengakui itu semua, mengapa kau murka seperti ini”, mata Latifah terlihat berkaca-kaca.
“Kawanku Latifah, apa yang harus aku akui dan apa yang dusta dari perkataanku tadi? Aku berkata jujur demi Allah aku berkata jujur” suara Habibah memelan.
“dusta....kawankku berdusta” Latifah menangis, ia tak percaya pada ucapan Habibah.
“lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memanggil Ahmad dan menjelaskan semuanya padamu?” Habibah menantang kawannya yang masih tak percaya padanya.
“Habibah, Latifah apa yang kalian lakukan? Bergurau saat pelajaran” Pak guru menyadari pertengkaran mereka berdua.
“maafkan kami pak” Habibah meminta maaf atas perbuatannya yang telah mengganggu ketenangan kelas.
“sekarang Habibah kamu keluar dari kelas saya dan tunggu sampai jam saya habis” Pak guru menghukum Habibah, namun Habibah tak dapat berkata apa- apa dan keluar dari kelas.
Sementara Latifah terlihat masih menangis karena kejadian tadi.
Pulang sekolah
“Habibah ada apa denganmu dan Latifah kalian bertengkar?” Ahmad menghampiri Habibah yang sedang mengambil sepedanya di parkiran sekolah.
“iyah, dia marah padaku” jawab Habibah lesu.
“astagfirullah, kalian inikan kawan baik mengapa sampai bertengkar dan kau harus keluar disaat jam pelajaran tadi, itu sangat tidak baik Habibah, sebaiknya kalian saling minta maaf agar tidak berlarut-larut masalahnya” Ahmad memberi saran pada Habibah, namn kelihatannya Habibah tidak menghirau kan perkataan Ahmad.
“Ahmad sebaiknya kau jelaskan saja semuanya pada Latifah, dia menyangka bahwa kejadian di taman tadi karna kau bersamaku” Habibah berterus terang pada Ahmad tentang apa yang terjadi antara ia dan Latifah.
“apa? Jadi dia bersalahpaham pada kita?” Ahmad terkejut mendengar perkataan Habibah.
“ya”
“memangnya apa urusan dia kalau kita bersama? Haha aneh sekali perempuan itu” Ahmad terlihat lebih tenang dari pada Habibah.
“baiklah Habibah akan ku jelaskan semuanya pada Latifah” Ahmad menghampiri Latifah yang seedang menunggu angkutan yang searah denga tujuannya.
“Latifah..” teriak Ahmad dan mendekati Latifah.
“Ahmad, ada apa kau memanggilku?” tanya Latifah terlihat gembira.
“aku inin menjelaskan semuanya padamu, kkudengar kau marah karena kejadian tadi antara aku dan Habibah, tapi mengapa kau tak mempercayai perkataan kawanmu tadi?” tanya Ahmad pada Latifah yang senumnya mulai surut.
“ah aku tak percaya padanya karna aku ingin dia berkata jujur padaku, itu saja” jawab Latifah seperti anak kecil.
“tapi ku rasa Habibah telah berkata jujur padamu, aku memang hanya bertemu dia saja saat siang tadi, dan kulihat Habibah sedang melamun, kuhampiri dia dan mengihburnya, tapi Ahbibah menolak hiburanku dan menyuruhku pergi dari hadapannya, tapi aku tetap saja masih disitu, nah Habibahlah yang kemudia pergi meninggalkanku di taman, begitu” Jelas Ahmad yang didenagrkan serius oleh Latifah.
“oh begitu ya, maafkan aku sudah salah sangka dengan Habibah, terimakasih sudah menjelaskan semuanya padaku Ahmad” Latifah tersenyum setelah mendengar penjelasan Ahmad tadi.
“syukurlah, tepi kenapa kamu harus marah pada Habibah?” Ahmad memberi pertanyaan yang membuat wajah Latifah merah.
“eh..aku pulang dulu yah, assalammualaikum” tanpa menjawab pertanyaan Ahmad Latifah meninggalkan Ahmad dengan wajah yang memerah.
“waalaikumsalam, eh Latifah kau belum menjawab pertanyaanku” Ahmad terlihat kebingungan denga tingkah latifah hari ini.
bersambung...........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar